**When Your Gone**
Saturday August 23rd 2008, 7:52 am
Filed under:
CERITAKUW
"…..dan akhirnya, hal terbaik yang kulakukan untuk orang yang ku cintai adalah membiarkannya pergi…."
kutipan di atas itu, sepertinya sudah akrab banget dengan hidupku.. haha… Agak lucu memang, tapi itulah yang sering kulakukan.Dahulu, dan sekarang, sama saja.
Munafik bila aku mengatakan, "aku senang kamu meninggalkanku," karena sebenarnya hatiku berkata: "…Jangan pergi.."
Aku hanya belajar untuk mengikhlaskan segala sesuatu yang berhubungan dengan "kebahagiaan" bila bukan kebahagiaanku, mungkin kebahagiaan orang yang kucintai.
Karena bagiku, hanya dengan melihatnya saja pun sudah bisa membawa kebahagiaan tersendiri.
Walaupun tidak memilikinya?
Apalah arti memiliki? Seperti yang sudah ku katakan, aku tidak pernah berpikir untuk memiliki seseorang. Aku hanya berpikir untuk memberikan rasaku pada seseorang, bukan mengikat dia dalam kata "memiliki" itu. Aku pikir, ‘Memiliki’ lebih berdasar pada hasrat negatif. dan bila ada kata lain yang menunjukan kepemilikan atas cinta seseorang. aku pasti akan menggunakan kata itu.
Dan, biarpun ia hanya memperlihatkan punggungnya. Aku tetap merasa telah memberikan ‘kebahagiaan’ untuknya. Ia merdeka memilih jalan. Dan berbahagialah untuk lelaki yang telah memperlihatkan punggungnya padaku, namanya telah terukir otomatis dalam keabadian rasaku.
CERPEN PERTAMAKUw
Tuesday July 15th 2008, 10:03 am
Filed under:
CERITAKUW
Tersenyum Dalam Luka
Oleh: Qyutherina Arth
Tontonan langit saat senja baru saja usai. Aku masih duduk diam di atas balkon kontrakanku. Tak hirau apa pun. Bahkan secangkir kopi yang semenjak tadi menemaniku pun ku biarkan saja mendingin. Mataku kosong menatap gelap dengan tangan memeluk lutut. Dari sudut mataku terasa ada air yang menganak di kedua pipiku. Aku tak tahu apakah air itu masih bening atau telah berubah merah karena hatiku terasa berdarah.
“Sepi itu teman kamu, Sya. Ayolah bangun! kamu pasti bisa hidup sendiri, biasanya juga bisa, kan?” rintihku.
Hari ini tepat tanggal 5 Agustus. Kembali aku mengucapkan kata yang sama setelah sekian lama aku tidak mengucapkannya. Tepatnya sejak sebulan lalu tatkala bang Davi tiba-tiba mengunjungiku, dan membawa kabar tentang Randy yang membuat seluruh ragaku berubah warna.
Adalah Rendy, seorang lelaki yang sangat aku banggakan, yang membuatku seperti saat ini. Ia kekasihku. Ah, patutkah aku menyebutnya kekasih? Bila ternyata ia telah menorehkan luka pada seluruh bagian tubuhku, hingga luka itu terasa menembus tulangku?
Air mata terus mengalir dari bibir sumur mataku. Namun tak menghalangi ingatanku pada saat ketika pertama kali bang Davi mengunjungiku, tepatnya tanggal 5 Juli lalu pada suasana sore seperti saat ini. Tidak biasa, itulah tanggapanku ketika kulihat Honda Civic abu-abu miliknya memasuki pelataran rumah kontrakanku. Ia turun dari mobilnya dengan pakaian yang tidak biasa pula, baju batik coklat dipadu celana katun hitam terlihat sangat pantas di tubuh jangkungnya. Kunjungannya ke kontrakanku pun tidak biasa, mengingat selama ini aku hanya mengenalnya di tempat biasa Rendy dan teman-temannya menghabiskan waktu bersama. Walau sudah dekat, namun ia belum pernah sekalipun mampir ke kontrakanku ini.
“Hallo, bang! Apa kabar?” sambutku.
Bang Davi tersenyum.
“Emh, baik. Oh, ya, bisa ngobrol bentar, Sya? Kamu libur kerja, kan?” ujar bang Davi dengan raut setengah dipaksakan.
Aku mencoba tersenyum untuk mengalihkan perasaan tak enak yang tiba-tiba saja menggantung di ulu hatiku. “Tentu saja boleh, bang? Kebetulan lagi suntuk juga, nih! Yuk, ikut ke atas,” ajakku.
Tanpa menjawab bang Davi mengikutiku, dan balkon inilah yang menjadi tempat pilihanku.
“Jangan repot-repot, Sya! Keluarin aja yang ada,” seloroh bang Davi ketika aku sibuk mengambilkannya minuman.
Aku tertawa saja saat itu, tapi tetap saja perasaan tak enak itu masih ada dalam benakku. Ada apa? Pertanyaan itu pun terus menguntitku.
“Dari mana, bang? Tumben banget rapi? Emang ga’ kerja hari ini?” tanyaku sambil meletakan gelas berisi air putih di meja. Bang Davi tertawa mendengar pertanyaanku yang bertubi-tubi itu. Aku pun tertawa.
“Udah mirip wartawan, ya?” komentar bang Davi sesaat setelah tawanya reda. Aku diam, bang Davi pun diam. Aku merasa suasana saat itu benar-benar tidak enak, walaupun bang Davi mencoba membuat suasananya seperti biasa.
“Oh, iya, bang. Aku mau tanya boleh ngga?” tanyaku.
Bang Davi terlihat menganggukan kepala.
“Bang Rendy pindah tugas, ya? Kok, akhir-akhir ini sulit banget di hubungi?” tanyaku. Bang Davi menatapku dengan tatapan yang sulit kutebak maknanya. Tiba-tiba tangannya terjulur ke arah kepalaku. Di elusnya rambut sebahuku itu, aku diam sambil menatap wajahnya.
Aku dan Rendy berkenalan di sebuah seminar yang diadakan PWI di Anyer, lima bulan lalu. Kedekatan yang benar-benar dekat, atau istilah kerennya sih cinta pada pandangan pertama. Kami memutuskan untuk berpacaran saat itu juga. Dan akhir-akhir ini dia susah untuk dihubungi, aku mengerti, pekerjaannya sebagai redaktur salah satu koran nasional pasti telah menyita waktunya. Tapi, apakah wajar jika ponselnya juga selalu tidak aktif?
“Emh, ada kok, ini aku baru nemuin dia. Tapi…….” Bang Davi tidak meneruskan ucapannya. Aku menunggu kelanjutan ucapannya dengan perasaan tak menentu. “Sya, kamu ingat kata-kataku dua minggu yang lalu di café Fun? Aku berkata seperti ini; jangan pernah lari dari takdir, walau apapun yang menimpa hidupmu. Hadapi saja dengan senyuman termanis yang kamu punya,” sambungnya. Aku semakin tidak mengerti maksud ucapannya itu, rasa penasaran pun semakin besar saja. Namun aku terus mencoba diam, untuk mencerna semua ucapannya.
“Mungkin takdir itu saat ini mengarah pada kamu, tapi tenang saja jalan kamu masih panjang, Sya! Kamu masih punya banyak waktu untuk menemukan hari dan hati yang akan membuatmu selalu tersenyum,” bang Davi diam sejenak. Ia terlihat menelan ludah. Aku masih diam, tapi aku tahu sesuatu yang sedari tadi kurasakan tak enak itu adalah hal yang belum kuketahui.
“Rendy itu sosok lelaki yang baik, namun di luaran sana masih ada lagi Rendy yang lain yang jauh lebih baik dari Rendy yang kamu kenal saat ini….”
“Langsung ke pokok permasalahannya aja, bang!” potongku dengan sedikit keras. Terus terang aku pun kaget dengan ucapanku itu.
“Rendy, dia…. Dia akan menikah bulan depan, aku, aku baru saja menghadiri acara pertunangannya,” ujar bang Davi setengah bergumam.
Aku langsung menutup mata, tanpa sadar aku menjambak rambukku sendiri. Tubuhku terasa lemas. Ini jawaban perasaan tak enakku? Inikah? erang bathinku. Bang Davi meremas pundakku dan untuk pertama kalinya aku menangis di hadapannya. Bang Davi memelukku tanpa bersuara, hanya hembusan nafas beratnya saja yang terdengar.
“Kenapa? Kenapa dia tidak memberi tahu langsung? Kenapa dia langsung pergi? Kenapa, kenapa?” erangku di sela isak.
Pertanyaan itulah yang sampai detik ini menggantung di dinding hatiku. Sebentar lagi bang Davi menjemputku untuk pergi ke resepsi pernikahan Rendy. Aku belum menemukan jawabannya. Aku memang sedikit memaksa bang Davi agar ia mau mengajakku ke resepsi itu, karena sebenarnya aku memang tidak diundang.
“Salsya? Kamu di sini?” sebuah suara milik bang Davi tiba-tiba terdengar di belakangku. Bersamaan dengan suara langkah yang mendekat, kusapu air mata di pipi yang terasa mulai tirus ini. Bang Davi langsung menghadiahiku belaian pada rambut kusut yang tak lagi mengenal sisir itu, air mataku kembali luruh. Tangan kekarnya terus mengelus kepalaku dengan lembut. Tak ada suara lain selain isakku.
“Lebih baik, kamu jangan ikut aku, ya?” bang Davi kembali melarangku untuk tidak ikut dengannya, ketika aku sudah mulai tenang. Kutepis tangannya yang masih mengelus kepalaku.
“Tidak! Aku harus ikut, kalau memang abang tidak mau melihatku sedih, biarkan aku ikut!” ujarku sinis.
“Tapi, sya, badan kamu itu butuh istirahat! Lihat lingkaran hitam di mata kamu itu, kamu pasti selalu begadang. Lihat, betapa kurusnya badan kamu!” ujar bang Davi memberi alasan.
“Tidak, pokoknya aku harus ikut! Aku ingin tahu reaksi dia bila melihatku di sana. Aku ingin dia tahu, betapa sakitnya aku karena dia! Aku ingin menghukum dia dengan kedatanganku, aku ingin…….”
Aku tak kuasa berkata lagi, karena dadaku begitu sesak menahan isak. Bang Davi memelukku, tangan kekarnya lalu membantuku bangun, dan menuntunku ke arah kamar tidur.
“Gaun kamu di mana?”tanya bang Davi setelah kami sampai di kamar. Aku menunjuk lemari berpintu tiga. Beberapa kali bang Davi menunjukan gaun pestaku. Namun aku menggeleng, dan tepat pada gaun kelima aku baru mengangguk. Gaun berwarna hitam pemberian Rendy, itulah yang aku pilih. Tak lama kemudian, kami pun keluar.
“Kita ke salon dulu, ya? Biar wajah kamu tidak pucat seperti ini,” ujar bang Davi sambil menancap gas. Aku tahu perasaan bang Davi pasti tidak enak, karena telah mengijinkanku pergi. Tapi, aku benar-benar ingin tahu reaksi Randy saat melihat kedatanganku.
“Sya? Yuk!” ajak bang Davi sambil membuka pintu mobil. Aku tak ingat kapan bang Davi memarkir mobilnya di depan Dev’ Salon.
“Tunggu sebentar,” ujar bang Davi setelah kami masuk ke salon itu. Ia lalu pergi menghampiri seorang wanita dengan rompi hitam di atas kemeja putihnya itu. Entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas setelah bercakap-cakap dengan bang Davi wanita itu menghampiriku lalu membawaku ke sebuah ruangan yang penuh peralatan rias. Beberapa menit kemudian aku pun dibawanya kembali ke ruang tunggu, di mana bang Davi menungguku.
“Seperti ini, kan?” ujar wanita itu sambil tersenyum. Bang Davi mengangguk, lalu setelah mengucapkan terimakasih kepada wanita itu kami pun pergi.
“Senyum dong! Biar kamu tambah cantik,” ujar bang Davi di setengah perjalanan kami. Aku mencoba tersenyum untuk menyenangkan bang Davi. Dan ia meremas jemariku ketika kami sampai di gedung tempat resepsi berlangsung.
“Bang, aku harus bagaimana?” tanyaku setengah berbisik.
“Senyum, tersenyumlah,” jawab bang Davi setengah berbisik pula.
Kedatangan kami disambut tatapan mata seluruh tamu. Bahkan di beberapa sudut terdengar bisik-bisik tidak jelas. Aku tahu mereka membicarakanku. Aku tahu mereka itu adalah orang-orang yang tahu bagaimana hubunganku dengan Rendy. Mungkin ada di antara mereka yang tengah mengasihaniku.
Bang Davi langsung menggandengku menuju tempat di mana kedua mempelai berada, diiringi tatap ratusan tamu.
Adalah di sana, di atas pelaminan Rendy berada dan bersanding dengan wanita yang kini telah memilikinya. Ia terlihat begitu tampan dengan balutan jas hitam bertahtakan sejumput kembang didada kirinya, sedangkan pengantin wanita terlihat anggun memakai gaun putih dengan hiasan manik-manik menyerupai mutiara di sekujur tubuhnya, dan mahkota kecil yang bertengger manis di atas kepalanya. Seharusnya yang memakai gaun itu, aku! jerit bathinku. Bang Davi meremas tanganku yang dingin. Aku menatapnya sejenak. Ia mengangguk untuk meyakinkanku. Randy sepertinya tidak melihat kedatangan kami, ia terlihat tengah bercanda dengan pasangannya. Akh! Ada larva panas menjalar ke jantungku yang koyak. pedih!
“Hai, Bro! Selamat, ya!” terdengar bang Davi menyapa Rendy yang masih belum sadar atas keberadaan kami.
“Oooow! Haiii, Dav! Akhirnya tamu agung datang juga, sama sia….”
Rendy tak kuasa meneruskan kata-katanya tatkala matanya menubruk sosokku. Tawa bahagianya seketika hilang. Rautnya seketika memucat, jelas kulihat Rendy terkejut melihat kedatangan kami. Mulutnya terlihat komat-kamit hendak mengucap kata, tapi tak satupun kata itu keluar dari kerongkongannya. Berkali-kali kulihat ia menelan ludah, bintik-bintik keringat jelas di dahinya. Padahal ruangan saat itu terasa dingin olehku, bahkan suasananya pun terasa dingin. Dari sorot matanya aku tahu ia hendak mengucap maaf, maaf untuk apa? Terlambat! Tak kau lihatkah tubuhku yang compang-camping akibat luka yang kamu torehkan?
Aku tersenyum semanis biasa saat bersalaman dengannya. Seperti senyuman yang kuberikan saat aku menjawab ‘ya’ atas ungkapan cintanya. Dan kini, senyuman itu pun aku berikan padanya walau camping hatiku olehnya.
“Terimakasih atas semuanya. Semoga kebahagiaan selalu menyertai harimu,” bisikku dengan nada sedikit gemetar sambil mencium pipinya. Aku tersenyum dalam gelap yang tiba-tiba menyentuh jarak pandangku. Aku tersenyum dengan air dari sumur mataku yang membuncah tanpa mampu aku cegah. Aku tersenyum, gelap, dan roboh. (ENd)
Secarik Kertas___________
>>>Terbit di Harian Umum Radar Banten….Edisi Oktober 2007… atau klik http://radarbanten.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=18222
>>> Cerpen pertama yang terbit di Harian Umum Radar Banten (Lokal)
Coba tebak, Cerpen ini fiktif atau bukan?? Yupz.. sebagian fiktif dan sebagian nyata, ayo tebak dimana bagian yang nyatanya?? hahahahaha…
Gw gak tau kapan tepatnya gw bikin cerpen ini, tapi yang jelas gw cuma perlu beberapa menit doang (Di sela2 siaran.. Pas lagu naik, gw nulis ini..(T_T)
dan gw sangat bersyukur, karena akibat kelucuan yang hadir dalam hidup gw, akhirnya cerpen ini berhasil gw buat (Dengan panuh cinta, dan tawa; ngetawain diri sendiri yang "GOBLOK", "TOLOL", dan "GAK PUNYA OTAK") gw gak berani ngetawain orangnya….’Semua salah memang ada di gw’…
Wow, jangan sedih gt doong!! hahahaahaa…
Kalem aja…
Gak usah pada nangis baca cerpen gw, walaupun kenyataan itu ada…
Sudahlah….
Waktu semakin menua, gak usah di ambil pusing sama cerita beginian<— Khusus buat lo yang ngalamin hal seperti tokoh di atas. Bikin asyik aja… ketawa aja, anggap aja ini adalah salah satu kelucuan hidup yang digariskan Tuhan pada kita…
Pesan gw_________
Kalau mu nangis, nangis aja.. tapi jangan meratap…
Kalau mau teriak, teriak aja… tapi jangan terdengar
kalau mau memukul, pukul aja, tapi jangan sampai ada yang merasa sakit…
Jangan sesali apapun…yang tlah lalu…
Walaupun dahulu kita ‘mati’ karena kesakitan….
Semuanya pasti akan "baik-baik saja, jika kita terus memperbaiki diri"
SHEELA
Tuesday July 15th 2008, 8:56 am
Filed under:
CERITAKUW
SHEELA
Oleh: Qyuterina Artha
Sejenak mataku berpadu dengan mata coklat yang dulu sangat ku kagumi itu. Ku lihat mata itu tak lagi berwarna coklat, namun memudar seiring dengan butiran air yang jatuh diatas celana jeansnya. Aku masih saja diam, tak ada satupun rasa ingin membawanya kepelukanku. Walaupun dahulu rasa itu begitu besar, dan saking besarnya hingga luka yang ia torehkan itu tak kurasakan sama sekali. Aku benar-benar dibutakan oleh rasa yang sebenarnya telah dibuatnya sangat dan amat semu.Langit perlahan berubah warna, begitupun kini rasaku padanya.
“Aku minta maaf, Mas!”ujarnya disela sedus sedannya, pucat rautnya semakin memucat seiring air mata yang berjatuhan bak hujan yang belakangan mengguyur Jakarta. Aku tetap saja diam. Aku sengaja memaku seluruh sendi pada kursi yang ku duduki, aku sengaja mematri pintu hati untuknya kembali. Biarkan luka itu membusuk didalam. Perlahan ia menggelosorkan diri kelantai, tangannya menyentuh telapak kakiku. Aku tetap tak bereaksi, hanya pikiranku saja yang berjalan menyelusuri liku-liku masa lalu.
*******
Pertengahan Agustus 2003 dan Awal Januari 2004
Aku mengenalnya dikampus, Sheelomitha Amanda. Itulah nama gadis manis berdarah Solo-Jakarta itu. Ia adalah wanita pertama yang menarik mataku untuk terus menatapnya terus. Padahal tak ada polesan apapun di wajahnya. Aku memang tidak menyukai wanita yang tahan berlama-lama didepan meja rias. Memoles, dan menambal pipi. Aku suka wanita yang menonjolkan kealamian wajahnya. Bahkan menurutku wanita itu lebih cantik, seperti Sheela. Bahkan tak ada yang mengalahkan kecantikannya dimataku. Apalagi matanya yang berwarna coklat itu, cintaku seperti tertumpah padanya.
Tiga bulan aku bolak-balik merayunya, selama kurun waktu itu aku terus ditolaknya. Ia menolakku dengan kata-kata lembut sekali, namun terasa menohok hati. Tapi bukan aku namanya, bila berhenti ditengah jalan. Dan akhirnya pada suatu hari, kala itu aku baru saja selesai magang untuk tugas akhirku. Aku kembali melihat sosoknya duduk dilorong, serius membaca.
“Hai Seella!”sapaku kala itu. Ia tetap serius membaca novel bersampul biru, novelku. Ia menatapku sejenak, lalu menggeser pantatnya memberiku ruang untuk duduk. Terdiam lama.
“Andris!! Haiii bro! Lu udah balik ternyata, udah beres magang lu?”suara Danu menyelamatkan keheningan, Danu merangkulku. Sheela menatapku sambil membuka halaman akhir novel ditangannya, ia mendesiskan namaku. Aku tersenyum.
Akhirnya awal Januari 2004, aku dan dia resmi hidup bersama. Gelar sarjana S1 telah tersanding dinamaku, walaupun saat itu Sheela masih belum mendapatkannya. Tak apa, toh aku mampu membiayainya sendiri dengan royalti dari novel-novelku. Rumah pun telah ku sediakan, walau hanya sekecil sangkar burung. Toh, tidak mengurangi kebahagiaanku, pun Sheela. Bahkan sebelum menikah pun Sheela sudah mewanti-wanti supaya aku tidak membeli rumah yang terlalu besar.
“Aku suka rumah yang mungil saja, mas! Aku ndak mau yang besar, biar nanti aku gampang ngurusinnya. Kita tabung aja uang sisanya, buat anak kita,”
********
Awal Maret 2006
“Mas, hari ini tidak usah menjemputku. Mba Arin mengajakku ke Villanya di Bogor, ga’ sama lelaki kok! Khusus wanita aja, bahkan mas Bram juga ndak ikut. Boleh ya, sayang? Luph u:-*"
Aku tersenyum membaca pesan pendek Sheela yang tertera di layar ponsel, aku tidak membalasnya. Melainkan meletakan kembali ponsel itu, lalu beralih ke komputer kembali mengerjakan skenario film yang harus ku selesaikan sesegera mungkin. Mudah bagiku, karena skenario itu bersumber dari novelku yang laris awal tahu lalu.
“……..Karena wanita ingin di mengerti……” Dering ponsel memecah konsentrasiku, sebuah pesan pendek tertera dilayarnya.
“Posisi lu dimana, bro? Gw lihat Sheela di Taman Anggrek sama cowo, mesra banget!” Sender: Danu, 0859217XXXXX
Aku menghembuskan nafas sejenak, lalu mulai menarikan ibu jariku diatas keypad.
“Jangan ngaco! Sheela ke villa Mba Arin di Bogor, gue lagi dirumah.” Message Send. Mataku kembali ke komputer, jemariku menari menyusun kata. Tak lama ponselku berdering kembali.
“Ngaco pala lu? Orang sekarang gue lagi makan ga’ jauh dari meja mereka, kalau ga’ percaya tanya bini gue aja nih! Dia juga ngelihat, jelas banget! Sorry, gue kasihan aja sama lu,” Sender: Danu, 0859217XXXXX
Terpaku aku membaca pesan itu, bathinku sepertinya sudah membunyikan alarm tanda perang sedari tadi. Pertanyaan-pertanyaan klise pun mulai bergumul, ramai sekali. Hingga aku pun bingung harus menyebutkan tanya yang mana, akhirnya tercetus juga tanya dalam hatiku. Haruskah aku percaya pada Danu? Atau Sheela? Danu tidak mungkin bohong, pun istrinya. Sedangkan Sheela? Tentu aku harus lebih percaya padanya, bukankah rasa percaya itulah yang dibutuhkan dalam suatu hubungan? Aku percaya Sheela, sangat, sangat percaya.
******
Akhir Juni 2006
Pantai Anyer lenggang sore itu, siluet memperindah langit Anyer yang mulai temaram. Aku duduk di bangku kayu depan cottage tempatku menginap, dari winamp di laptopku sedari tadi menyuarakan lagu cinta tak terhingga. Tanganku terus menari diatas keyboard, skenarioku kemarin kurang bagus. Itu kata mba Nia, ia menyuruhku membetulkannya kembali.
“Mas, jalan, yuk!”ssuara Sheela terdengar merajuk disusul dengan rangkulannya. Ku hentikan tarian jemariku, lalu melirik kearah Sheela yang sekarang telah duduk disampingku. Ku lepaskan tangannya yang masih merangkulku, perlahan.
“Aku harus menyelesaikan naskah ini, sayang!”ujarku sambil membetulkan rambut yang menutup sebagian wajahnya. Ia lalu menatapku, cemberut. Aku diam, pura-pura tidak tahu. Tak lama ia berdiri lalu bertolak pinggang didepanku.
“OH jadi gitu? Kamu lebih memilih MBA NIA mu itu dari pada istrimu ini? Hah?! Kapan sih kamu ngertiin aku? Kayaknya aku aja yang harus ngertiin kamu, aku capek tahu ngga?!”ujarnya dengan penekanan di nama mba Nianya.
“Ya ampun, Sheel? Kamu ini kenapa sih? Masalah kecil aja dibesar-besarin kayak gini! Jangan kayak anak kecil deh! Biasanya juga kamu pergi belanja keperluan butikmu sendiri, dan segalanya sendiri, KAN?”ujarku dengan penekanan yang dalam. Aku tak tahu kenapa aku berkata seperti itu, namun bunyi sms Danu itu sepertinya asyik menari dikepalaku. Sheela mendelik.
“Kok kamu ngomong gitu c? Oh, asal kamu tahu ya? Aku juga sudah tidak sudi lagi menjalani hidup seperti ini terus!”ujarnya sambil mendengus kesal, setelah itu ia berdiri dan pergi masuk cottage. Ku hembuskan nafas setelah tak ku lihat lagi sosoknya. Aku kembali menulis, tak lama berselang aku pun menyusulnya.
Perlahan ku buka pintu kamar, mataku mencari sosok istri tercintaku. Namun hanya ruangan berantakan yang menyambutku, semua barang-barangku teronggok di atas tempat tidur. Sementara mataku tak melihat barang Sheela satu pun, ada rasa panik mendesir dalam darahku. Disusul sebuah tanya dalam otakku, Sheela benar-benar pergi? Tergesa aku masuk kamar, ku tengok kamar mandi, nihil. Ku panggil namanya, ombak yang menjawabku. Akhirnya aku memutuskan membereskan barang-barangku, namun tanganku menggentung tatkala melihat secarik kertas diatas kemeja biru pemberian Sheela bulan lalu.
Ku buka perlahan lipatan surat itu, selembar foto terjatuh dari dalamnya. Mataku mendelik membaca kata perkata dalam surat itu. Ku ulangi membacanya, tapi tetap saja tulisan itu berbunyi; “MAS, AKU TIDAK AKAN KEMBALI”. Perlahan ku pungut foto yang tadi terjatuh. Disana aku melihat seraut wajah cantik yang tak lain adalah istriku. Ia tersenyum padaku, seperti senyum yang ia berikan setiap waktu padaku. Binar matanya pun tak berubah, ia sangat cantik. Makian menganak dari mulutku berbentuk gumpalan gumam tak jelas. Bukan karena memaki kecantikannya, namun karena senyuman, dan sorotan mata penuh cinta itu bukan untukku. Tapi untuk lelaki bertelanjang dada yang tak ku tahu siapa, disampingnya. Lelaki yang tengah memeluk Sheela, wanitaku tercinta.
* * *
Air menetes hangat dikaki, membawaku ke alam nyata. Sheela masih bersimpuh dikakiku, sedunya demikian menyayat hati. Perih, sebenarnya sangat perih hatiku melihatnya bersimpuh seperti ini. Namun aku hanya bisa menelan ludah yang terasa pahit ditenggorokanku itu, mungkin empedu telah meracuni sekujur tubuhku.
“Aku mohon maafkan aku, mas! Aku salah, aku telah bersalah,”suaranya parau diantara sedu. Aku meraih pundaknya yang terasa dingin, lalu mendudukannya dikursi tempat dahulu kami bercumbu.
“Tidak ada yang perlu dimaafkan, tidak ada yang salah,”ujarku setengah bergumam. Sheela menatapku dibalik air matanya. Aku menatapnya sejenak, ku keluarkan rokok mild lalu menyulutnya.
“Aku hanya manusia biasa, Sheel! Tuhan saja selalu memaafkan umat-Nya. Masa aku tidak bisa memaafkanmu? Aku memaafkanmu, pergilah…..”sambungku terdengar tertahan ditenggorokan kala menyuruhnya pergi. Sheela manatapku, matanya berbinar dibalik air mata yang mengabut. Aku berdiri lalu masuk ke kamar utama yang tak pernah ku tiduri itu. Kali ini aku menidurinya, mengacak-acaknya, lalu pulas diatasnya.
Keesokan harinya, sebuah koran dan segelas kopi ku dapati dimeja makan. Pun piring kotor yang menumpuk sudah rapi dirak, tak ada debu pula. Mungkin Sheela semalam menginap, pikirku kala kuraih gelas kopi yang masih hangat itu.
“Ternyata kamu masih ingat kesukaanku, Sheel! Terimakasih,”gumamku dengan sebuah tersenyum tulus yang sudah tak ku guratkan lagi, sambil meletakan gelas. Namun tak lama, senyumku dipaksa harus memudar kala ku lihat tulisan bercetak blod pada halaman utama koran disamping kopi. Mataku nanar, dan mulai berkabut.
“MAYAT PEREMPUAN DITEMUKAN MEMBUSUK DI VILLA GREEN ANYER..” (**END**)
**** Penulis merupakan Mahasiswa semester VI DIKSATRASIA UNTIRTA, aktif di UKM JURNALISTIK, dan Belistra (bengkel penulisan sastra)
>> Sudah terbit di Radar Banten…untuk melihat, klik www.radarbanten.com (Kolom Budaya)
SAAT HUJAN MERENGEK KEPAGIAN
Wednesday June 04th 2008, 1:13 pm
Filed under:
CERITAKUW
Lagu sendu mengiba
terdengar dari winamp laptopku, sementara tanganku melukis kata hati dalam
derai tanya yang menyiksa. Sepotong rasa yang entah kapan datangnya itu,
sepertinya kini berubah menjadi alkohol yang menggerogoti gerakku. Memabukanku,
dan menyesatkanku. Ku hembuskan nafas seiring bergantinya lagu lain yang lebih
menyentuh ranah jiwaku, sementara jarum jam di dinding kamar menunjuk angka
3.30 pagi. Tak sedikitpun kantuk menyentuh pelupukku, yang terasa hanya tanya
yang terasa aneh di telingaku. (Bersambung…)
Yeah, itu adalah penggalan cerepn gw. Dan tahukah? gw lagi ngerasain hal yang sama saat ini. (Tadinya siy, waktu gw nulis cerpen itu ya, ngga ada sangkut pautnya sama perasaan gw) gw cuma pengen ngasih yang beda dalam ceritA GW.. TAPI KENAPA SEKARANG GW NGALAMIN ITUH?? Huhuhuhu…..
Engga tahu kapan gw suka sama kura itu, *Gw manggil kura, karna ntu hewan yang paling pengen gw pelihara; ngga ada hubungannya siy sama melihara laki, hehehe… tapi yaa, boleh dibilang cowok itu lucunya kayak Kura2..hehehe*
Gw suka sama dia. yeah, sangat. gag tau kapan awalnya, tapi gw suka dia. hehehe… Kura2 yang aneh, kura2 yang lucu, dan kura2 yang bego. lengkap banget di diri dia.
(Yey, Kura yang mana nuiy?) iya c banyak banget orang yang gw panggil kura, tapi ada satu kura yang paling ajaib; KURA-KURA NINJA, hehehehe…
Oke, becandanya di stop dulu. gw mau ceritain soal dia. Dia kayak gimana ya orangnya? hmm, susah ditebak. gw gag terlalu tau bagaimana dia, termasuk gag tau apa dia udah punya cewek apa belum. hahahaha… Gokil ya?
Tapi tadi gw chat sama temen gw, mo tau isi chatnya?
Nuiy gw kasih ya!
Temengw: "Udah belum betenya?"
Gw : "Masih, malah tambah parah."
Temengw: "Kenapa lagi?"
Gw : "Gw baru tau kalo dia udah punya cewek,"(T_T)
temengw: SIAPA?
gw : DIA (T_T)
Temengw: Akh gw gag ngerti, lo lg ngomongin siapa sih?
Gw : DIA (T_T)
Temengw: Akh, dia siapa?
Gw : Justin Timberlake(^_^)
Temengw : (^_^) Goblok!
well, itu cuma selingan aja. yang sebenernya siy gag kayak gitu. Gw masih belum tau apa dia udah punya cewek apa belum. yaaaa… CIDAHA dah! Hahahaahaha..
Sebenernya gw jijik banget ngambil istilah itu, tapi kalau emang kayak gitu kenyataannya gimana? Okelah CIDAHA, daripada CIDAHU, kejauhan:-P
Hoadoooh, gw tuh ngerasa goblok banget suka sama dia. secara dia itu(****Sensor akh!) heuheuheu… Yang satu ini cukup gw aja yang tahu… Bodo amat kalo yang kemaren, hehehehe… (Maaf ya Nup:D)
Yang ini bener2 RAHASIAAAAAAAAA BANGGET!! hahahahahha…
Tar kalo udah jadi baru gw kasih tau; MAKSUD LO???
(Ya, walaupun gw yakin kagak bakalan jadi. wong benih yg ditaburnya juga dikit, lha? kok kayak mau bertani ya?)huahuahuaaaaa…
Yasudahlah, gw mau ngedit lagi. Da ini juga selingan doang, habis gw nulis nama dia mulu di berita anak2… Bener2 parah tuh virus dia di otak gw… Hahahaha (Garing)
Yu, Akh! Come on, Kanggggg!!!
I DOn’t Believe That!!
Monday June 02nd 2008, 12:25 pm
Filed under:
PUISIKUW??
Aku Mencintaimu…
Walau belum tentu benar…
Aku mencintaimu…
Walau gontai…
Aku mencintaimu…
Belum jauh…
Masih beberapa detik lalu…
Saat air berubah warna..
Merah,
Aku mencintaimu…
Percayakah?
Jangan…
SAAT TANYAMu HAdir
Thursday April 10th 2008, 11:54 am
Filed under:
PUISIKUW??
Bila
kau tanya lamanya tahun, tanyakan pada para narapidana dibalik terali besi itu.
Bila
kau tanya lamanya bulan, tanyakan pada buruh pabrik yang sedang asyik bekerja.
Bila
kau tanya lamanya minggu, tanyakan pada para kuli bangunan yang sedang
tersengat matahari.
Bila
ku tanya lamanya hari tanyakan pada para tukang becak yang sedang asyik
mengayuh becaknya.
Bila
kau tanya lamanya jam, tanyakan pada tukang reparasi jam yang sedang duduk
membetulkan jam.
Dan
bila kau Tanya tentang hatiku tanyakan pada mataku yang selalu ingin
memandangmu.
Seperti Kemarin
Sunday January 06th 2008, 10:33 am
Filed under:
PUISIKUW??
“….SEPERTI KEMARIN…”
Ada tak menentu dalam jarak hatiku, yang mengambang menyelusuri darahku.
Ada gundah yang menyapu bersih diamku, yang memojokanku pada dinding sesak dalam dadaku. Entah apa, pun kenapa. Semuanya ada bila ku ingat diriku… entah apa, pun bagaimana, semuanya seperti bayangan malaikat maut yang siap mencabut nyawaku…..
Ada takut menggerogoti dagingku, kala ku hayal masa nanti.. Seperti kilasan film lama yang membusuk dimakan waktu, ia menyapaku. Memelukku, dan mencumbu dalam diam hayalku.
Sementara diluar, semburat warna-warni dan suara terompet menggema memecah malam yang berbalut rintik hujan. Aku disini, sendiri, merenung dengan linangan rasa yang membuat dadaku sesak tak beraturan. Aku disini, bercumbu dan di cumbu takut yang berkepanjangan. Aku disini, memeluk lutut, dipojok kamar yang sengaja ku gelapkan. Menangis.
“Selamat tahun baru” gumamku lirih ditelan isak.
(Dini Hari Januari 2008)
DURI ITU ADA MAWARNYAAAA
Saturday December 08th 2007, 10:17 am
Filed under:
CERITAKUW
Hey! Dulu gw kira yang namanya duri itu tetap akan menjadi duri… Tapi setelah gw pikir2 dan gw lihat sekarang ini, ternyata duri itu ada mawarnya! Mawar putih pula, gw seneng banget! Lega rasanya….
Dan gw yakin juga, duri2 yang nanti nusuk gw, ntu juga pasti punya bunga yang indah!
Wiiih pokoknya idup gw sekarang, tentram, tenang!! Huhuy….
MATAHARI ITU AKU
Tuesday September 18th 2007, 4:34 pm
Filed under:
CERITAKUW
Bila Bintan
g bersinar karena adanya pantulan Matahari, begitu
pun Bulan. Kata orang bulan itu simbol keromantisan, dan Matahari adalah simbol
kemarahan dan dendam. Tapi bagiku tidak demikian. Aku lebih menyukai Matahari
baik karena panasnya yang membakar kulitku, menghanguskan poriku, maupun karena
sinarnya yang tak lelah menyinar walau gelap tlah datang.. Aku selalu tak kuasa
menahan haru ketika Pagi datang, karena berarti ia akan segera menyetubuhiku
dengan hangatnya.. Dan menunjukanku kebaikan dengan terangnya.. Juga
mengawaskan mataku atas virus yang akan menyerang tubuhku…
Dan jika suatu saat ada
yang menanyaiku, “Seandainya kamu reinkarnasi, rupamu ingin seperti siapa?” Aku
tidak akan menjawab seperti siapa, tapi aku akan menjawab “Aku ingin menjadi
matahari,” walaupun sepertinya tidak ada kesambungan antara pertanyaan dan
jawaban, tapi itulah jawabku… Suka atau tidak kau akan kusinari dengan ramahku,
sukaatau tidak kau akan selalu kukirimi panas tubuhku keti
ka kau lelah… suka
atau tidak kau akan selalu kugerahi dengan auraku… Dan suka atau tidak aku akan
menunjukanmu jalan pulang pada baikmu… Suka atau tidak! Kau akan terus ku ikuti
untuk kusetubuhi dengan hangat apiku….. Bahkan jika kau pun tengah gerah dan
Marah aku akan tetap menyinarimu dengan sapaku pada permukaan kulitmu.. atau
jika kau tengah menangis, suka atau tidak aku akan terus berada didekatmu dan
tetap mencahayai bening yang jatuh dari matamu itu.. bahkan aku akan sengaja
menyorot matamu dengan cahayaku agar mata itu tak berair lagi, walaupun
nyatanya matamu akan sakit olehku
MIMPI=KANGEN? ENTAHLAH
Friday August 31st 2007, 1:46 pm
Filed under:
CERITAKUW
MIMPI 1
Suatu
ketika saat lelah menyapa tubuh, tiba-tiba saja rasa itu menyaru dan
menyetubuhi bathinku. Rasa yang sama ketika pertama kali dia memaksa hengkang
dari pesisir hatiku. Saat itu jeritanku melengking menembus sluruh harap, dalam
diamku.
Kini,
rasa itu mengajakku menemuimu, pertemuan maya ketika kelopak mata tertutup. Ku
lihat ia berdiri di tengah pikuk manusia-manusia trotoar. Senyumnya
menyambutku, dan membawa ingatku atas waktu lalu.
“Hai
apa kabar?”sapaku. Ia tersenyum tanpa jawab, namun tangannya menarikku menuju
malam. “Lihat, bintang itu! Lebih terang dari yang lain, bukan?”ucapmu sambil
menunjuk langit. Mataku patuh mengikuti telunjukmu.
“Itu
bin……” mulutku tak kuasa meneruskan kata, ketika ku rasa tak ada dekap ditubuh.
Mataku mencarimu, tanganku meraba di tengah gulita. Namun ia tak ada. Aku mulai
menjerit, aku berteriak menyebut namanya. Aku terjaga…..
MIMPI 2 (Malam berikutnya…)
Rasa
itu kembali menggelitik hatiku. Dari firasat, aku tahu ia kembali mengajakku
menemuinya dalam lelap. Aku tertawa ketika lelap menuntunku menuju pesisir
pantai, ku lihat ia duduk diatas batangan kayu tepat dibibir pantai. Aku
berlari kearahnya dan langsung mendekapnya.
“Kemarin
kamu kemana? Pergi, kok, ndak pamit,”rajukku. Tangannya mengacak rambut
terikatku, tanpa jawab tanyaku. “Kali ini aku ga’ mau tahu, kamu harus pamit
padaku sebelum pergi,”sambungku. Kali ini tangannya mengelus pipiku, aku tersenyum.
Aku tahu ia menyanggupi pintaku, sama seperti dulu ketika aku meminta waktunya
untukku.
“Ombak
itu selalu kembali ke pantai, ya?”ucapmu dalam tanya yang tak perlu jawab. Aku
ber-Hmmm, mencoba mencerna maksud ucapannya itu.
“Pergi,
yuk?”ajaknya sambil menarik lenganku. “Bukankah dulu kita tidak pernah pergi
berdua?”sambungnya. Aku tersenyum sambil mengikutinya, mataku menatap
punggungnya yang lebar. Dari dulu aku memang tidak pernah jalan berdampingan
dengannya, aku selalu dibelakangnya. Karenanya aku sering dimarahi,
hahahahahaha… Alasanku sangatlah sederhana, “AKU PERCAYA PADANYA”. Pikirlah,
pasangan(Lelak&wanita) yang jika berjalan selalu berdampingan pun selalu
ingkari keberadaan salah satu diantaranya, bukan? Jika salah satu tahu hal itu,
meledaklah ia. Dan aku selalu berbuat sebaliknya. Ngomong soal kebalikan, aku
jadi ingat Spongebob Squarepants saat episode Hari Kebalikan, hahahahaha…
Hidupku seperti dalam episode itu…
“Tahukah
kamu, aku selalu mencarimu,”ujarku setelah tak kudengar ombak bernyanyi. Ia
berbalik, matanya menatapku. Senyumnya samara dimataku, ia mendekatiku.
“Untuk
kali ini, kamu harus mendampingiku,”ujarnya sambil menggandeng pundakku. Aku tersenyum.
Tiba-tiba alarm nyaring memberaikan lelap. Akh…….
Serang, 2007 (Spesl Thanks to, "LELAKI PERTAMA")