SHEELA
Tuesday July 15th 2008, 8:56 am
Filed under: CERITAKUW

                                                            

SHEELA

                                                   

Oleh: Qyuterina Artha

Sejenak mataku berpadu dengan mata coklat yang dulu sangat ku kagumi itu. Ku lihat mata itu tak lagi berwarna coklat, namun memudar seiring dengan butiran air yang jatuh diatas celana jeansnya. Aku masih saja diam, tak ada satupun rasa ingin membawanya kepelukanku. Walaupun dahulu rasa itu begitu besar, dan saking besarnya hingga luka yang ia torehkan itu tak kurasakan sama sekali. Aku benar-benar dibutakan oleh rasa yang sebenarnya telah dibuatnya sangat dan amat semu.Langit perlahan berubah warna, begitupun kini rasaku padanya.

“Aku minta maaf, Mas!”ujarnya disela sedus sedannya, pucat rautnya semakin memucat seiring air mata yang berjatuhan bak hujan yang belakangan mengguyur Jakarta. Aku tetap saja diam. Aku sengaja memaku seluruh sendi pada kursi yang ku duduki, aku sengaja mematri pintu hati untuknya kembali. Biarkan luka itu membusuk didalam. Perlahan ia menggelosorkan diri kelantai, tangannya menyentuh telapak kakiku. Aku tetap tak bereaksi, hanya pikiranku saja yang berjalan menyelusuri liku-liku masa lalu.

                                                        *******

Pertengahan Agustus 2003 dan Awal Januari 2004

Aku mengenalnya dikampus, Sheelomitha Amanda. Itulah nama gadis manis berdarah Solo-Jakarta itu. Ia adalah wanita pertama yang menarik mataku untuk terus menatapnya terus. Padahal tak ada polesan apapun di wajahnya. Aku memang tidak menyukai wanita yang tahan berlama-lama didepan meja rias. Memoles, dan menambal pipi. Aku suka wanita yang menonjolkan kealamian wajahnya. Bahkan menurutku wanita itu lebih cantik, seperti Sheela. Bahkan tak ada yang mengalahkan kecantikannya dimataku. Apalagi matanya yang berwarna coklat itu, cintaku seperti tertumpah padanya.

Tiga bulan aku bolak-balik merayunya, selama kurun waktu itu aku terus ditolaknya. Ia menolakku dengan kata-kata lembut sekali, namun terasa menohok hati. Tapi bukan aku namanya, bila berhenti ditengah jalan. Dan akhirnya pada suatu hari, kala itu aku baru saja selesai magang untuk tugas akhirku. Aku kembali melihat sosoknya duduk dilorong, serius membaca.

“Hai Seella!”sapaku kala itu. Ia tetap serius membaca novel bersampul biru, novelku. Ia menatapku sejenak, lalu menggeser pantatnya memberiku ruang untuk duduk. Terdiam lama.

“Andris!! Haiii bro! Lu udah balik ternyata, udah beres magang lu?”suara Danu menyelamatkan keheningan, Danu merangkulku. Sheela menatapku sambil membuka halaman akhir novel ditangannya, ia mendesiskan namaku. Aku tersenyum.

Akhirnya awal Januari 2004, aku dan dia resmi hidup bersama. Gelar sarjana S1 telah tersanding dinamaku, walaupun saat itu Sheela masih belum mendapatkannya. Tak apa, toh aku mampu membiayainya sendiri dengan royalti dari novel-novelku. Rumah pun telah ku sediakan, walau hanya sekecil sangkar burung. Toh, tidak mengurangi kebahagiaanku, pun Sheela. Bahkan sebelum menikah pun Sheela sudah mewanti-wanti supaya aku tidak membeli rumah yang terlalu besar.

“Aku suka rumah yang mungil saja, mas! Aku ndak mau yang besar, biar nanti aku gampang ngurusinnya. Kita tabung aja uang sisanya, buat anak kita,”

                                           

********
   
Awal Maret 2006


“Mas, hari ini tidak usah menjemputku. Mba Arin mengajakku ke Villanya di Bogor, ga’ sama lelaki kok! Khusus wanita aja, bahkan mas Bram juga ndak ikut. Boleh ya, sayang? Luph u:-*"

Aku tersenyum membaca pesan pendek Sheela yang tertera di layar ponsel, aku tidak membalasnya. Melainkan meletakan kembali ponsel itu, lalu beralih ke komputer kembali mengerjakan skenario film yang harus ku selesaikan sesegera mungkin. Mudah bagiku, karena skenario itu bersumber dari novelku yang laris awal tahu lalu.

“……..Karena wanita ingin di mengerti……” Dering ponsel memecah konsentrasiku, sebuah pesan pendek tertera dilayarnya.

“Posisi lu dimana, bro? Gw lihat Sheela di Taman Anggrek sama cowo, mesra banget!”
Sender: Danu, 0859217XXXXX

Aku menghembuskan nafas sejenak, lalu mulai menarikan ibu jariku diatas keypad.

“Jangan ngaco! Sheela ke villa Mba Arin di Bogor, gue lagi dirumah.” Message Send. Mataku kembali ke komputer, jemariku menari menyusun kata. Tak lama ponselku berdering kembali.

“Ngaco pala lu? Orang sekarang gue lagi makan ga’ jauh dari meja mereka, kalau ga’ percaya tanya bini gue aja nih! Dia juga ngelihat, jelas banget! Sorry, gue kasihan aja sama lu,” Sender: Danu, 0859217XXXXX

Terpaku aku membaca pesan itu, bathinku sepertinya sudah membunyikan alarm tanda perang sedari tadi. Pertanyaan-pertanyaan klise pun mulai bergumul, ramai sekali. Hingga aku pun bingung harus menyebutkan tanya yang mana, akhirnya tercetus juga tanya dalam hatiku. Haruskah aku percaya pada Danu? Atau Sheela? Danu tidak mungkin bohong, pun istrinya. Sedangkan Sheela? Tentu aku harus lebih percaya padanya, bukankah rasa percaya itulah yang dibutuhkan dalam suatu hubungan? Aku percaya Sheela, sangat, sangat percaya.
                                                        ******
Akhir Juni 2006
Pantai Anyer lenggang sore itu, siluet memperindah langit Anyer yang mulai temaram. Aku duduk di bangku kayu depan cottage tempatku menginap, dari winamp di laptopku sedari tadi menyuarakan lagu cinta tak terhingga. Tanganku terus menari diatas keyboard, skenarioku kemarin kurang bagus. Itu kata mba Nia, ia menyuruhku membetulkannya kembali.

“Mas, jalan, yuk!”ssuara Sheela terdengar merajuk disusul dengan rangkulannya. Ku hentikan tarian jemariku, lalu melirik kearah Sheela yang sekarang telah duduk disampingku. Ku lepaskan tangannya yang masih merangkulku, perlahan.

“Aku harus menyelesaikan naskah ini, sayang!”ujarku sambil membetulkan rambut yang menutup sebagian wajahnya. Ia lalu menatapku, cemberut. Aku diam, pura-pura tidak tahu. Tak lama ia berdiri lalu bertolak pinggang didepanku.

“OH jadi gitu? Kamu lebih memilih MBA NIA mu itu dari pada istrimu ini? Hah?! Kapan sih kamu ngertiin aku? Kayaknya aku aja yang harus ngertiin kamu, aku capek tahu ngga?!”ujarnya dengan penekanan di nama mba Nianya.

“Ya ampun, Sheel? Kamu ini kenapa sih? Masalah kecil aja dibesar-besarin kayak gini! Jangan kayak anak kecil deh! Biasanya juga kamu pergi belanja keperluan butikmu sendiri, dan segalanya sendiri, KAN?”ujarku dengan penekanan yang dalam. Aku tak tahu kenapa aku berkata seperti itu, namun bunyi sms Danu itu sepertinya asyik menari dikepalaku. Sheela mendelik.

“Kok kamu ngomong gitu c? Oh, asal kamu tahu ya? Aku juga sudah tidak sudi lagi menjalani hidup seperti ini terus!”ujarnya sambil mendengus kesal, setelah itu ia berdiri dan pergi masuk cottage. Ku hembuskan nafas setelah tak ku lihat lagi sosoknya. Aku kembali menulis, tak lama berselang aku pun menyusulnya.

Perlahan ku buka pintu kamar, mataku mencari sosok istri tercintaku. Namun hanya ruangan berantakan yang menyambutku, semua barang-barangku teronggok di atas tempat tidur. Sementara mataku tak melihat barang Sheela satu pun, ada rasa panik mendesir dalam darahku. Disusul sebuah tanya dalam otakku, Sheela benar-benar pergi? Tergesa aku masuk kamar, ku tengok kamar mandi, nihil. Ku panggil namanya, ombak yang menjawabku. Akhirnya aku memutuskan membereskan barang-barangku, namun tanganku menggentung tatkala melihat secarik kertas diatas kemeja biru pemberian Sheela bulan lalu.

Ku buka perlahan lipatan surat itu, selembar foto terjatuh dari dalamnya. Mataku mendelik membaca kata perkata dalam surat itu. Ku ulangi membacanya, tapi tetap saja tulisan itu berbunyi; “MAS, AKU TIDAK AKAN KEMBALI”. Perlahan ku pungut foto yang tadi terjatuh. Disana aku melihat seraut wajah cantik yang tak lain adalah istriku. Ia tersenyum padaku, seperti senyum yang ia berikan setiap waktu padaku. Binar matanya pun tak berubah, ia sangat cantik. Makian menganak dari mulutku berbentuk gumpalan gumam tak jelas. Bukan karena memaki kecantikannya, namun karena senyuman, dan sorotan mata penuh cinta itu bukan untukku. Tapi untuk lelaki bertelanjang dada yang tak ku tahu siapa, disampingnya. Lelaki yang tengah memeluk Sheela, wanitaku tercinta.
                                                            * * *
Air menetes hangat dikaki, membawaku ke alam nyata. Sheela masih bersimpuh dikakiku, sedunya demikian menyayat hati. Perih, sebenarnya sangat perih hatiku melihatnya bersimpuh seperti ini. Namun aku hanya bisa menelan ludah yang terasa pahit ditenggorokanku itu, mungkin empedu telah meracuni sekujur tubuhku.

“Aku mohon maafkan aku, mas! Aku salah, aku telah bersalah,”suaranya parau diantara sedu. Aku meraih pundaknya yang terasa dingin, lalu mendudukannya dikursi tempat dahulu kami bercumbu.

“Tidak ada yang perlu dimaafkan, tidak ada yang salah,”ujarku setengah bergumam. Sheela menatapku dibalik air matanya. Aku menatapnya sejenak, ku keluarkan rokok mild lalu menyulutnya.

“Aku hanya manusia biasa, Sheel! Tuhan saja selalu memaafkan umat-Nya. Masa aku tidak bisa memaafkanmu? Aku memaafkanmu, pergilah…..”sambungku terdengar tertahan ditenggorokan kala menyuruhnya pergi. Sheela manatapku, matanya berbinar dibalik air mata yang mengabut. Aku berdiri lalu masuk ke kamar utama yang tak pernah ku tiduri itu. Kali ini aku menidurinya, mengacak-acaknya, lalu pulas diatasnya.

Keesokan harinya, sebuah koran dan segelas kopi ku dapati dimeja makan. Pun piring kotor yang menumpuk sudah rapi dirak, tak ada debu pula. Mungkin Sheela semalam menginap, pikirku kala kuraih gelas kopi yang masih hangat itu.

“Ternyata kamu masih ingat kesukaanku, Sheel! Terimakasih,”gumamku dengan sebuah tersenyum tulus yang sudah tak ku guratkan lagi, sambil meletakan gelas. Namun tak lama, senyumku dipaksa harus memudar kala ku lihat tulisan bercetak blod pada halaman utama koran disamping kopi. Mataku nanar, dan mulai berkabut.

“MAYAT PEREMPUAN DITEMUKAN MEMBUSUK DI VILLA GREEN ANYER..” (**END**)

**** Penulis merupakan Mahasiswa semester VI DIKSATRASIA UNTIRTA, aktif di UKM JURNALISTIK, dan Belistra (bengkel penulisan sastra)

>> Sudah terbit di Radar Banten…untuk melihat, klik www.radarbanten.com (Kolom Budaya)





     
No Comments so far



Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

(required)

(required)