Patutkah Rasa Benciku?
Thursday August 30th 2007, 1:38 pm
Filed under: CERITAKUW

Kemarin aku bertemu dengan orang yang pernah ada dalam hatiku. senyumnya jelas dimataku, namun aku tak tahu apakah itu senyuman kerinduan, ataukah Nista.. Entahlah… (Ini sesaat sebelum dia berucap)…  setelah ucapannya ku dengar, aku tahu, dan jelas, aku pun yakin. BUKAN DIA YANG AKAN MENDAMPINGI AKU, walaupun dulu dia sempat menawarkan mimpinya untuk hidup bersamaku hingga renta datang….

Mata itu, senyum itu, dan bahasa tubuhnya bukan seperti yang aku mau… Semuanya penuh dengan NISTA, dan aku tak suka itu… walau diriku adalah bagian NISTA itu pun, aku tak mau!! "Lebih baik aku bertemu malaikat maut, dari pada bertemu denganmu," ingin sekali aku berucap demikian padanya.. ingin sekali aku melontarkan kata-kata tak ada puji pun hormat padanya, HORMAT? hahahahahahahahahahahaha…. Masih pautkah aku menghormatinya? TIDAK! aku malah membencinya, sangat membencinya! Hal ini baru ku sadari kemarin! DAMN!!

Benci itu kini khusus ku hadirkan untuknya!! Untuk orang yang sempat membuatku berfikir mengembalikan rasaku padanya setelah permohonannya itu… Untuk orang yang pernah ku bela dan ku baguskan namanya dihadapan Semangku…

"KAU Sama saja dengan lelaki itu, babe! Aku harus pergi dan TIDAK menemuimu lagi, pun kamu, jangan menemuiku lagi!!"gumamku saat itu



Soundtrack IDUP gw (AGUSTUS 2007)
Monday August 27th 2007, 12:26 pm
Filed under: Music

Sakit Sendiri

Cindy Bernadette

 

Apa yang ku rasa dari
dirimu

Kau kini menjauh

Apa salahku

Apakah ku menyakiti hatimu

Katakan padaku jangan
membisu

Kau kini berbeda jauh

Dari lelaki yang dulu
membuatku jatuh cinta

Siapa yang telah merubahmu

Untuk meninggalkanku

Kasih…..

Bila engkau harus pergi

Tinggalkan saja aku
sendiri

Jangan bilang masih cinta

kau hanya membuatku
menangis

Buat apa bilang sayang

Buat hatiku makin susah

Pergilah kasih pergi saja

Biar aku sakit sendiri

 

Walaupun harus berpisah

Takan ku lupakan engkau

Yang pernah ada di dalam
hidupku

Tak mungkin aku memaksa

Kalau memang cinta tlah
sirna

Mungkin ini yang terbaik

Hukz….Hukzz…!!! Soundtrack gw bulan ney  (Agustus 2007) euy! Huehehehehehehehe…..

Cindy Bernadette d’ bezz lah!!Kukukukukuk



RATU SANDIWARA YANG TAK PANDAI BERSANDIWARA
Monday August 27th 2007, 12:17 pm
Filed under: PUISIKUW??

RATU SANDIWARA YANG TAK PANDAI
BERSANDIWARA

 Dsci0885

“Aku adalah RATU Sandiwara,”sorak bathinku
suatu ketika.

Tawa bangga membuncah dari mulutku.

Mampu menggetarkan tubuh, dan cap seram
bila mendengar.

Aku tertawa, terus, terus, dan terus.

Hingga mataku berair, dan sakit
menggelitiki perut.

Kataku, laku ku, bahkan jejakku

adalah hasil dari kesandiwaraan hidupku

“Lihat, mereka mampu ku sandiwarai,”aku
berkata ditengah tawa.

Aku tertawa untuk peranku.

Dan tentu saja, aku pun tertawa untuk otak
yang tlah kusandiwarai.

Hahahahahahahahahahahahahahahahahahaha

“Akulah yang seharusnya mendapat piala
citra itu”

Hihihihihihihihihihihihihihihihihihihihihihihihihihihi

“Tidak sadarkah mereka tengah ku
sandiwarai?

Hohohohohohohohohohohohohohohohohohoho

“Bodoh itu ternyata bukan milik orang
bodoh saja”

Huhuhuhuhuhuhuhuhuhuhuhuhuhuhuhuhuhuhuhu

Aku terus tertawa, hingga kemarin.

Ketika seorang sahabat menepuk pundakku,

Setelah ia ajarkan aku memoles pipi

“Kau bukan aktris hebat, aku tahu kau
tengah mensandiwarai mereka. Tapi, tidak untukk
u! Kau tetaplah kau, dan bukan
WANITA PERKASA seperti yang mereka ujar. Kau tetaplah kau, wanita seperti
kebanyakan. Yang menangis kala ada yang ingin kau tangisi, yang mengaduh bila tersakiti.
Kau tetaplah kau, berhentilah bersandiwara!”

Tawaku seketika hilang, berganti sedu yang
entah kapan hadir diantara kami.

Aku menangis,

Dan tahukah?

Itu tangis tulus yang pertama untuk
diriku.

Tubuhku seperti liliput dalam dongeng
Cinderella

Kecil, Kerdil, bahkan mungkin tubuhku
seperti kuman yang tak terlihat kasat mata..

“Ternyata aku Ratu sandiwara yang tak
pandai bersandiwara. Lihat saja, aku

tak mampu mensandiwarai kamu, ya hanya
kamu!”ujarku dengan senyum sesal namun penuh syukur yang menyembul dari balik
tangis.

Serang, 27 Agustus 2007



URAT-URATKU PECAH, DITENGAH LELAH.
Monday August 27th 2007, 12:03 pm
Filed under: CERITAKUW

URAT-URATKU PECAH, DITENGAH LELAH.

 

Dsci0892
Suatu pagi yang tak terkira. Aku, teman 1,
dan teman 2, duduk dengan tangan
menggenggam rupiah berbagai warna. Merah, Hijau, Biru, dan Merah berplastik.
Tak terdengar suara selain gemerincing logam rupiah berwarna perak di tangan
teman 1, “200 ribu,”ujarnya setengah bergumam dengan tangan menimang logam
putih dalam plastik putih. “Banyak banget ya? Kalo di timpukin sama kucing yang
semalam e’e di kolong ranjangku, pasti mati,”sahut teman 2 sambil tertawa
dengan mimik tak hendak tertawa. Aku dan teman 1 tergelak hambar seperti rasa
segelas kopi hitam yang barusan ku teguk. “Tak ada lagi kah, rasa
kehewananmu?”tanyaku dengan nada tak ingin bertanya, namun bukan basa basi.
Kami tergelak.

 

TOK…TOK…TOK… suara pintu dibelakangku
diketuk. Tak lama terdengar suara seorang lelaki penuh nada tuduh, dan
menyalahkan. Sepuluh, seratus, seribu. Entah berapa banyak kata meluncur dari
mulut kelelakiannya, kelelakian? Patutkah aku menyebutnya demikian bila santun
saja tak ada? Aku diam dengan urat-urat yang memaksa menyembul dari bilik
marah. Memang sejak seminggu lalu, urat-uratku terus saja berbuat sesukanya.
Menyembul, menyatu, lalu pecah. Tapi, bukankah tidak akan ada akibat, apabila
tidak ada sebab? Ya, keadaan yang membuat uratku demikian.

“Cari saja orang di organisasimu, bukankah
sejak kemarin hanya tenaga kami yang terperas? Kini, otak, tenaganya tengah
dipakai disini,” bela teman 2 tanpa melirik lelaki itu. Lelaki itu berang,
keluarlah kata-kata yang benar-benar membuat uratku terasa pecah. Marah.

“Apakah hanya aku, yang ingin mereka
temui? Hey, siapa mereka pun aku tak tahu! Oke, kalau untuk tamu, suruh orangmu
saja yang menemuinya,”tandasku. Ia mengelak, dan terus memojokanku. Ku tatap
wajah bola lelaki itu, tak ada lelah seperti wajahku. Tak ada garis hitam
seperti bawah mataku, tak ada. Hanya titik peluh dikening, dagu, dan hidung
saja yang ada. Wajar, karena matahari mulai menaiki ubun-ubun.

“Oke, kalau itu mau mu, tapi aku tidak
bertanggung jawab untuk hal lain, selain menemui mereka. Hah, ternyata
kebagusan wajah tak bisa memutar pikir, ya?”ujarku dengan penekanan disetiap
kata. Aku beranjak, untuk memakaikan sepatu pada kaki telanjangku dengan
urat-urat marah pecah dalam tubuh.  

 

Ibarat kupu-kupu yang lupa pada kepompong,
seperti itulah lelaki itu, Hey, sepertinya kupu-kupu terlalu baik untuk
diibaratkan seperti dirinya. Bukankah, Lelaki itu pergi sebelum kesempurnaan? Dan
Peluhku lah yang dituntut untuk menyempurnakannya.

 

Aku marah, aku dimarahi tanggung jawab
ini, itu, dan disana. Aku marah, aku dimarahi kemarahanku. AKU MARAH, PADA
DIRIKU, PADAMU, PADANYA, dan PADA MEREKA! Sampai saat tanganku lincah mengukir
kisah pun, kemarahan itu masih mengendap dalam otakku, dan terus menyetubuhi
nafasku. Terkecuali bibirku, senyum itu tetap terukir disana untuk semua sapa.
Walaupun paksaku atasnya.

 

Serang, 27 Agustus 2007.



Suatu Malam di tepi Alun2
Wednesday August 22nd 2007, 1:00 pm
Filed under: Uncategorized

Suatu malam di sebuah warung kopi di pinggir alun-alun kota ,
aku, dan kawan laki-lakiku duduk sambil memandang kedalam alun-alun. Disana
terlihat 4 orang banci, 2 orang pelacur dan seorang lelaki setengah baya dengan
perut membredel dibalik baju yang tengah bercengkrama, sementara itu disudut
lain, seorang lelaki lusuh dengan anting di hidung dan teling tengah duduk
bergitar halus, seorang gembel dengan racau mulut tidak jauh darinya, dan dua
orang (lelaki, wanita berkerudung) tengah berjalan dengan tangan bertaut mesra.
“Lihat ulah banci itu,”bisik kawanku dengan nada mengejek. Sekilas aku melirik
kearah 4 orang banci, “Gila, ya! Lucu banget,”sambungnya. “Jangan mengejek,”ujarku
acuh sambil menjejalkan sebatang rokok ke dalam mulutku, kawanku itu sigap
menyalakan api dari korek gas berbentuk bola miliknya. Aku menolak halus dengan
meraih korek gas seharga 500 perak milikku, tak ada protes ku dengar. “Lihat,
sudah tua begitu masih saja main perempuan! Cih, tidak ada kasihankah untuk
orang rumah? Perempuan itu juga, tidak memilih orang,”ujarnya tetap dengan nada
mengejek. Gulungan asap berbentuk O keluar dari mulutku, “Jangan
mengejek,”kembali aku berucap. Dan begitu seterusnya.

 

Entah berapa ejek yang keluar dari bibir tipis yang menghitam
itu, entah berapa maki ia keluarkan untuk sesamanya. Tak terhitung! Karena aku
pun tidak ingin menghitung, mungkin apabila orang-orang yang ku sebutkan tadi
mendengar ucap kawanku itu dadanya akan terasa sakit. Aku sempat bertanya dalam
hati, tak adakah rasa manusianya? Dan tak sadarkah ia bahwa mereka hanya
memerankan dalam sandiwara hidup, mungkin hatinya pun menjerit protes pada sang
sutradara hidup. Lihat diri lebih baik dari pada lihat tubuh lain, yang kau tak
tahu isi hatinya. Rasakan bila kau mendapat peran layaknya mereka, Bukankah
manusia tidak sesempurna purnama tanggal 14? Ku teguk kopi susu yang tinggal
seperempat gelas dihadapanku, lalu aku berdiri dan berseru, “Lihat banci itu!
Tidak kah kau lihat bayangmu ada diantara mereka? Lihat ia menertawai
celotehmu, hahahahahaha….”aku menunjuk tepat dihidung kawanku itu. Tak lama aku
berseru kembali,

“Lihat gembel racau itu!”ujarku. ia mengikuti arah telunjukku,
sesaat ia menatapku. Keningnya berkerut, aku menatapnya tajam. “Ia mirip dirimu,
bahkan kamu lebih darinya,”aku diam sejenak sengaja melepas sesak nafas, “Tak
ada yang sempurna di dunia ini, kawan!”aku bergumam sambil meletakan pantatku
kembali di kursi kayu berbentuk panjang itu.

 



Surat Untuk Adam
Monday August 20th 2007, 9:22 am
Filed under: Uncategorized

Dear Adam…..

 

Apakah kau masih di
surga bersama Hawa si tulang rusukmu itu?? Bagus, berarti tak kau salahi
sejarah itu. Sejarah yang membuat namamu hingga kini menggema di surau-surau
kecil tepi desa, dan yang selalu didongengkan ibu itu pada anaknya. Tapi,
sepertinya ada sebuah kesalahan dalam cerita itu, Adam! Sadarkah kau?

Kesalahan cerita yang
membuat anak cucumu ngelantur, dan keluar jalur seperti yang telah di
porsikan oleh Tuhan padamu. Tidak kah, Tuhan telah  bersabda, bahwa Hawa itu tulang rusukmu?

Tulang itu berada di
sampingmu, bukan? Bukan di atas
untuk membuatmu tunduk pada kuasanya, bukan pula
di Bawah untuk kau injak dan kau hinakan kelemahannya. “Ini Hawa, Biarkan ia
melangkah mengiringmu dengan cinta dan kasihnya. Karena ia adalah rusukmu. Jadi,
lindungi dan cintai ia selayak kau pada bagian dirimu sendiri…”
bukankah itu
sabda Tuhan padamu ketika kau diperkenalkan padanya?

Kau penuhi? Tentu!
Tapi, kenapa kini anak cucumu tidak mematuhinya? Apakah sabda itu sudah tidak
berlaku atau kau lupa mewasiati
anak-cucumu, bahwa rusuk itu jangan disakiti? Kalau tidak, berarti sebagai ayah
kau telah gagal, Adam!

Tengoklah keturunanmu
kini, Wahai Adam! Seperti apa mereka memperlakukan tulang rusuknya? Tengok mata
tulang rusuk itu, tidak kah kau lihat disana ada air yang tengah membentuk air
terjun? Tengoklah! berapa banyak sungai yang telah mereka buat dari air mata
rusuknya. Tengoklah, dada Rusuk itu koyak. Dengar jerit dan ratap itu!! Tahukah
kau asalnya? Rusuklah yang menjerit, Rusuklah yang meratap.

Tidak! Aku tidak
bermaksud menyalahkanmu – Walau banyak rusuk yang menyalahkanmu, tapi aku
tidak
– atau tak percaya akan cinta dan kasihmu pada Hawa. Ataupun kuasa
Tuhan yang melahirkan Hawa dari rusukmu, aku percaya KuasaNya, aku percaya
cinta kasihmu. Tapi, tolong, Adam! Sampaikanlah kebenaran cerita itu pada
anak-cucumu kini, katakan pada mereka; “Jangan sakiti rusukmu, lindungi dan
cintai ia selayak kau pada dirimu,”
Rusuk tak sekuat kamu Adam!

 

 

Serang,
17 Agustus 2007

 

RusukMu



MulutMu HarimauMu
Tuesday August 14th 2007, 1:53 pm
Filed under: FOTO and Puizz

780553656l
INGATLAH KATAKU INI, HAI MULUT!

Kata yang kau ucap takkan ada manfaat bagimu, jika mulutmu tlah berhianat pada sang jujur..
Kata itu akan membunuh, merusak, dan mencabik seluruh bagian badan hidupmu…
Takkan ada remah yang menempel di sela gigimu, pun air liur yang selama ini membasahimu…
Darahpun takkan rela lagi mengaliri sela bibirmu, sebanyak apapun kau tangan menamparmu… Apalagi mengaliri hidupmu, Ia sungguh tidak akan pernah Rela…
Jantung itu pun akan segan mendetak di Jam hidupmu..
Akhirnya kau akan kaku, dan mati tanpa seorangpun tahu kau tlah mati….



Palsuuuuuuu
Saturday August 11th 2007, 2:30 pm
Filed under: Uncategorized

   

Palsu

Tak ada jiwa yang benar2 jiwa kini
Seulas senyum itu pun sepertinya tak berbentuk lagi
Pun tawa, canda, Sapa, atau bahkan cinta..
Semuanya bersembunyi dibalik tabir PALSU
Aku tahu semua itu PALSU
Bahwa kau yang disanapun tengah menanti tubuh palsuku ini…
hahahahahhahaha…
Aku Palsu, kau pun Palsu
tak ada yang tidak Palsu
Semuanya turut dalam derap langkah palsu
Pun Anda!



Ditanahmu aku Berdiri
Saturday August 11th 2007, 2:18 pm
Filed under: Uncategorized

Lihat! Aku kini berdiri di tanahmu
Tanah yang tlah bercampur berakmu
Yang bermata air dari kencingmu
Aku disini….
Walau Rupa pun Wujudmu tiada…
Walau hembus nafasmu tak kentara dimana
Aku disini untuk menantangmu hadir menatapku
Maju, dan lihatlah tatapku..
Tak! Tak kuharap dekap itu..
pun kecup bibirmu didahiku
Pandang saja..
Jiwa, hati, dan raga ini!
Jangan pernah palingkan muka angkuh itu
Jangan!
tatap, lihat, pandang!
jiwa mati dengan raga yang tengah menari ini!



Bingkai Cerita Hati
Thursday August 02nd 2007, 12:42 pm
Filed under: Uncategorized

01)

Kepada
pengecut
,

aku telah berdiri tegak,

dan berhenti memikirkanmu.

Aku muak dengan segala tentangmu yang memenuhi
kepalaku.

Mungkin kau masih berandai aku tetap terpasung bersama luka.

Tidak!

Karena aku membencimu dengan kemarahan yang sangat.

Aku ingin melenyapkanmu
bersama kepedihanku.

Terkutuklah engkau atas semua sedihku.

Untukmu pengecut segala maki ku ini.

02)

Kecewa
jelas aku kecewa

Sejuta
mimpi kini tlah sirna

Air
mata kini telah jadi darah

Marah
aku sangat marah

Cinta
yang kau bawa seperti belati yang kau tusukan ke jantung hatiku,

Lalu
dengan enteng kau berkata “aku tak sengaja”

Kau
hebat! kau hebat, kau menang,

Kau
bisa membuatku tertawa dan menangis dalam sekejap.

03)

Aku
terdampar di sebuah tempat

diantara
air dan  pasir di ujung malam yang sepi
dalam hati aku sendiri.

Hadirnya
bintang membuatku iri,

tanpa
cinta dihati.

Yang
ada hanya kesepian yang abadi.

Gemuruh
ombak menyadarkanku akan semua ini,

tentang
hidup yang ku jalani, tentang cinta yang abadi.

Pasir
air, malam dan bintang menjadi saksi ku disini.

04)

Mencintaimu seperti menggoreskan luka di hatiku.

Merindukanmu
bagai menyiksa hidupku,

tapi
aku terus saja mengingatmu

Mengharap
sedikit saja senyummu untukku

Walau
kau siksa hatiku

Walau
kau penjarakan aku dalam bencimu

Namun
aku terus saja menyayangmu

Berharap
kau tahu isi hatiku.

05)

 

Bila
kau bertanya
:

 

Bila
kau tanya tahun, tanyakan pada para narapidana dibalik terali besi itu.

Bila
kau tanya lamanya bulan, tanyakan pada buruh pabrik yang sedang asyik bekerja.

Bila
kau tanya lamanyaminggu, tanyakan pada para kuli bangunan yang sedang tersengat
matahari.

Bila
ku tanya lamanya hari tanyakan pada para tukang becak yang sedang asyik
mengayuh becaknya.

Bila
kau tanya lamanya jam, tanyakan pada tukang reparasi jam yang sedang duduk
membetulkan jam di ujung lorong sana.

Dan
bila kau Tanya tentang hatiku tanyakan pada mataku yang selalu ingin
memandangmu. 

06)

Belum
ada judul
:

Adalah kau disana dengan
segala diam,

Adakah kau ingin menyapaku?

Atau sekedar melihat aku disini

Mungkin kau tak pernah sadar atas keberadaanku.

Tapi lihatlah, aku sesekali
memperhatikanmu.

Berharap kau menoleh sebentar dan tersenyum kepadaku.

Namun
kau tetap diam,

Dan aku terus memperhatikanmu.

7)

Cintamu
adalah cintaku

Cintamu
adalah diriku

Cintamu
adalah nafasku

Cintamu
jiwa ragaku

Cintamu
hanya ada dalam hatiku

Walau
kau bukan milikku

Tapi
ijinkan aku berlabuh didunia hayalanmu

Cinta
kita berdua.